Akupun tak tau ini harus diimani atau tidak……


Sebelum 750 AD (sekitar 100 tahun setelah wafatnya Muhamad) tidak
ada satupun dokumen yang dapat memberikan gambaran tentang perioda
pembentukan Islam. Tidak ada sedikitpun keterangan/kesaksia n dari
masyarakat Islam selama 150 tahun pertama mereka, antara masa
penjajahan Arab pertama pada permulaan abad ke 7, sampai timbulnya
literatur pertama Islam abad ke 8 (Riwayah SIRA-MAGHAZI) .

Satu2nya hal yang kita miliki sebelum tahun 750 itu terdiri dari
`hampir seluruhnya pernyataan yang tidak jelas asalnya’ (‘almost
entirely of rather dubious citations in later compilations’ ‘ (Humphreys)) .

Memang luar biasa bahwa Islam tidak dapat menunjukkan satupun bukti
sejarah buku suci mereka bahkan dalam waktu 100 tahun setelah
kelahiran nabi mereka.

Sejumlah cerita dalam Quran berasal dari abad ke 2 literatur Yahudi:
– cerita2 Cain & ABel dalam dalam Surah 5.31-32 dipinjam dari Targum
Jonathan ben Uzziah dan Mishnah Sanhedrin 4.5 ;
– cerita Abraham, berhala dan penghancuran mereka dalam Sura 21.51-71
adalah dari Misdrash Rabbah ;
– cerita Solomon dalam Sura 27.17-44, tentang burung yang dapat
berbicara dan ratu Sheba yang mengangkat gaunnya karena menyangka
lantai mengkilap sebagai air, diambil dari Targum kedua cerita Esther.

Bahkan cerita Gunung Sinai diangkat dan mengambang diatas kepala
rakyat Yahudi sebagai ancaman kalau menolak hukum Yahwe (Surah 7.171)
berasal dari The Abodah Sarah. Dan seterusnya dst.

Dalam Surah 17.1 terdapat laporang tentang perjalanan Muhamad dari
mesjid suci ke mesjid terjauh. Dalam tradisi berikutnya, ayat ini
menunjuk kepada Muhammad menaiki langit ke 7, setelah sebuah
perjalanan malam ajaib (MI’RAJ) dari Mekah ke Yerusalem, diatas kuda
bersayap bernama Buraq. Ini berasal dari berbagai sumber : Testamen
Ibraham (~200), Rahasia Enoch (chap.1.4-10 and 2.1), dan buku Persia
tua berjudul Arta-I Viraj Namak.

Quran menunjukkan bahwa Muhammad memutuskan hubungan degnan orang2
Yahudi pada tahun 624 dan memindahkan arah Kiblat (Surah 2.144 and
149-150) dari Yerusalem ke Mekah. Namun, dokumen yang ada dalam
kepemilikan kami, yaitu Doctrina Iacobi Chronicler (dari tahun 661)
dan dokumen Usup Sebeos (dari tahun 660) menunjukkan hubungan baik
antara kaum Yahudi dengan kaum Ismaeli yang dahulu dikenal sebagai
kaum Saracen. Sumber berikut dari Armenia bahkan menyebut gubernur
Yerusalem adalah orang Yahudi pada tahap akhir masa
penjajahan/conquest . Jadi, testimoni2 ini bertentangan dengan
kesaksian dalam Quran.

MEKAH

Dalam Surat 3.96 dan 6.92 terdapat sebutan Mekah (Bakkah) yang
merupakan tempat ibadah pertama manusia karena Adam menempatkan batu
hitam dalam Ka’bah pertama, namun dalam Surat 2.125-127 disebutkan
bahwa Ibraham dan Ismael membangunnya kembali beberapa tahun kemudian.

Riset oleh Patricia Crone dan Michael Cook menunjukkan bahwa Mekah
tidak disebut2 dalam dokumen arkeologi sebelum permulaan abad ke 8.
Ingatlah bahwa ini merupakan 1 abad setelah wafatnya Muhamad.

Bahkan lebih aneh lagi adalah pernyataan kaum Muslim bahwa selain
merupakan kota tua dan besar, Mekah juga pusat dagang Arab di abad ke7
dan sebelumnya. Pernyataan ini lebih mudah diperiksa kebenarannya
karena bukti2 dokumen dari jaman itu cukup banyak.

Dari riset ekstensif Bulliet bisa dikatakan dengan pasti bahwa
pernyataan kaum Muslim ini SALAH. Ini dibuktikan lebih lanjut oleh
Groom dan Muller yang mengatakan bahwa Mekah tidak mungkin berada pada
rute perdagangan karena secara geografis ini berarti orang harus
mengadakan detour ketimbang melewati rute normal, yaitu melalui jalur
barat. (It would have entailed a detour from the natural route along
the western ridge.)

Letak MEKAH yg tidak strategis !

Bahkan Patricia Crone menambahkan “Mekah adalah tempat gersang/kering
dan tempat2 macam itu bukan pilihan pedagang. Mengapa karavan harus
turun kedalam lembah gersang Mekah kalau mereka dengan mudah dapat
berhenti di Ta’if yg lebih subur ?”

Ia juga menanyakan, “Komoditi macam apa di wilayah Arab saat itu bisa
ditransportasi melewati jarak jauh dan alam kering, dan tetap bisa
dijual dengan mendapatkan keuntungan yang cukup besar untuk mendukung
pertumbuhan sebuah kota yang kedudukannya tidak strategis itu.”

Faktanya adalah, pada abad2 tidak lama menjelang kelahiran Muhamad di
tanah Arab ini tidak ada satupun jalur pedagangan internasional,
apalagi di Mekah. Ternyata kebanyakan data mengenai asal pernyataan
“Mekah sarang dagang” ini adalah gara2 riset tidak teliti seorang
Jesuit, Henry Lammens, seorang “akademisi yang tidak reliable”.

Lammens menggunakan sumber2 abad pertama (seperti orang2 Romawi,
Periplus dan Pliny) dan bukannya sumber2 sejarawan Yunani yang hidup
lebih dekat pada masa tersebut seperti Cosmas, Procopius dan
Theodoratos (P. Crone).

Kenyataannya, di abad pertama, jalur perdagangan Yunani antara India
dan negara2 Mediterania sepenuhnya bersifat maritim. Silahkan anda
membuka atlas untuk mengerti mengapa. Tidak ada gunanya mengangkut
barang dagangan melewati jalan darat yang cukup jauh jika jarak itu
bisa ditempuh dalam separuh waktu lewat sungai/laut.

Menurut Nn. Croone, pada masa kaisar Dioclesias, lebih murah bagi
kerajaan Romawi untuk mengangkut gandum lewat laut sepanjang 780 km
(1,250 miles) ketimbang mengangkutnya lewat darat sepanjang 30 km (50
miles). Mengapa para pedagang dari India mengirim lewat laut barang
dagangan mereka, menurunkannya di pelabuhan Aden dan meneruskan
perjalanan di pundak onta sepanjang 780km lewat gurun gersang ?

Jika Lammens melakukan riset secara benar, ia juga akan melihat bahwa
jalur perdagangan Yunani-Romawi dengan India runtuh pada abad 3M,
sehingga pada jaman Muhamad tidak ada jalur darat maupun pasar Romawi
yang menjadi tujuan barang dagang tersebut. Croone juga menunjukkan
bahwa, seandainya Lammens meluangkan waktu untuk membaca sumber2
Yunani kuno, ia akan menelihat bahwa orang2 Yunani–tujuan barang
dagangan tsb–belum pernah mendengar nama kota Mekah. Kalau memang
tempat itu begitu penting, tentunya mereka yang akan menerima barang
dagangan tersebut pasti mengetahui eksistensinya. Namun, kita TIDAK
MENEMUKAN SEDIKIT KETERANGANPUN, kecuali bahwa orang Yunani menyebut
kota2 Ta’if dan Yathrib (kemudian dinamakan Medinah), juga Khaybar di
bagian utara. Tidak adanya sebutan ‘Mekah’ dalam dokumen historis
memang merupakan fakta problematik dalam membuktikan keberadaan sebuah
kota yang dianggap pusat kelahiran Islam.

Bahkan terdapat kebingungan dalam tradisi Islam ttg dimana sebenarnya
letak Mekah. Menutut riset J. van Ess, baik pada masa perang sipil
pertama dan kedua, ada kesaksian tentang orang2 yang bergerak dari
Medina ke Iraq, lewat Mekah. Namun kota MEKAH itu terletak di bagian
barat-daya Medinah sementara Iraq berada di belahan timur-laut.
(lihat peta diatas)

Maka kota ibadah Islam, menurut tradisi tersebut tadinya terletak di
bagian timur Medinah, yaitu arah berlawanan dari letak Mekah sekarang !

( According to the research by J. van Ess, in both the first and
second civil wars, there are accounts of people proceeding from Medina
to Iraq , via Mecca , yet the town is situated south-west of Medina
and Iraq is north-east. Thus the sanctuary for Islam, according to
these traditions was at one time north of Medina , which is the
opposite direction from where Mecca stands today ! )

Ini mengakibatkan kebingungan. Bukan hanya bukti2 dokumenter Arab dan
Yahudi tentang penanggalan saling kontradiksi, namun kota pusat Islam
itu dikenal hanya jauh kemudian.

BUKTI ARKEOLOGIS ARAH KIBLAT

Dikatakan bahwa arah kiblat ditetapkan pada Mekah pada sekitar tahun
624. Namun bukti2 arkeologis yang masih berlangsung pada mesjid2
pertama yang dibangun pada abad ke7 oleh arkeolog2 Creswell dan
Fehervari mengenai 2 mesjid Umayyad di Iraq dan didekat Baghdad,
menujukkan bahwa Kiblat tidak diarahkan pada Mekah tetapi jauh ke
utara. Mesjid Wasit malah melewati Mekah sebanyak 33 derajat dan
mesjid Baghdad sebanyak 30 derajat. Ini sesuai dengan kesaksian
Balahhuri (yang disebut Futuh) bahwa Kiblat mesjid pertama di Kufa,
Iraq, yang dibangun tahun 670 mengarah ke barat, padahal kalau mau
mengarah ke Mekah, seharusnya mengarah ke selatan !

Mesjid Amr b. al As diluar Kairo di Mesir menunjukkan bahwa arah
Kiblat menunjuk jauh ke utara sampai harus diperbaiki oleh gubernur
Qurra b. Sharik. Bukti2 diatas menunjukkan bahwa Kiblat tidak
diunjukkan pada Mekah tetapi pada sebuah kota jauh di utara,
kemungkinan didekat Yerusalem.

Ini diperkuat oleh penulis Kristen dan pelancong Yakub dari Edessa,
yang tulisannya berasal dari tahun 705 dan merupakan saksi mata di
Mesir. Ia menulis bahwa kaum Mahgraye (nama Yunani bagi kaum Saracen)
di Mesir bersolat menghadap ke timur dan TIDAK ke selatan atau
tenggara (menghadap Mekah). Suratnya (yang disimpan di British Museum)
memang merupakan pembuka mata. Oleh karena itu bisa disimpulkan bahwa
sampai tahun 705 pun, arah kiblat ke Mekah BELUM JUGA DITETAPKAN.

Menurut Dr. Hawting, dari SOAS (School of Oriental and African Studies
di London), penemuan arkeologis baru juga menunjukkan bahwa sampai
saat itu, kaum Muslim (atau disebut juga kaum Hagar, dari nama ibu
Ismael, yang dihamili nabi Ibrahim) memang solat tidak mengarah ke
Mekah tetapi ke utara, kemungkinan besar Yerusalem. NAMUN QURAN
MENGATAKAN KEPADA KITA (dalam Surat 2) BAHWA ARAH KIBLAT ADALAH MENUJU
MEKAH, kira2 dua tahun setelah HIjrah, atau sekitar 624 dan tidak
pernah berubah sampai sekarang.

Apa yang terjadi disini ? Mengapa Kiblat tidak mengarah kepada Mekah
sebelum tahun 705 ? Mari sekarang kita melihat Yerusalem.

THE DOME OF THE ROCK

Dome megah ini didirikan oleh Abd al-Malik pada tahun 691 dan sampai
sekarang masih berdiri. Pertama, kita harus mengingat bahwa the Dome
of the Rock bukan sebuah mesjid karena tidak memiliki arah kiblat.
Hanya sebuah gedung oktagonal dengan 8 pilar.

Muslimin puas dengan keterangan bahwa Dome ini didirikan guna
memperingati malam Isra Mi’raj, malam Muhamad terbang ke surga guna
berbicara dengan Musa dan Allah tentang jumlah sholat yang harus
dipatuhi pengikut. Namun, menurut riset oleh Van Berchem dan Yehuda
Nevo, kaligrafi disana tidak menyebutkan apa2 tentang Mi’raj tsb.
HANYA tulisan yg MENOLAK STATUS KETUHANAN YESUS, PENERIMAAN PARA NABI,
PENERIMAAN WAHYU OLEH MUHAMAD DAN PENGGUNAAN ISTILAH `’Islam” DAN
`’Muslim”.

Mengapa, kalau memang khusus didirikan untuk memperingati Mi’raj Nabi
gedung itu tidak menyebut sepatah katapun tentangnya ??? Shocked
Gedung megah ini yang didirikan pada masa2 kelahiran Islam menunjukkan
bahwa GEDUNG INILAH DAN BUKAN MEKAH yang merupakan tempat ibadah Islam
pertama dan pusat kelahiran Islam sampai paling tidak abad ke7.

Menurut tradisi Islam, kalif Sulaiman, yang berkuasa antara tahun
715-717, pergi ke Mekah dan bertanya tentang naik haji. Ia tidak puas
dengan jawaban yang diterimanya disana dan memilih untuk mengikuti Abd
al-Malik (i.e. melancong ke the Dome of the Rock). Fakta ini saja,
kata Dr. Hawting, menunjukkan bahwa bahkan pada abad ke 8 sudah ada
ketidakpastian tentang letak tempat lahirnya Islam.

Menurut tradisi, WALID I, kalif yang berkuasa antara 705-715 menulis
kepada semua daerah, memerintahkan penghancuran dan peluasan mesjid2.
Mungkinkah ini saat Kiblat ditetapkan kearah Mekah ? Kalau iya, ini
menunjukkan kontradiksi besar2an dengan Quran.

Dr. John Wansbrough, otoritas terbesar dalam tradisi dini Islam,
menunjukkan pengamatan menarik terhadap Muhamad. Sumber2 non-muslim
terbaik masa ini diberikan oleh kaligrafi Arab pada batu2an yg
tersebar di gurun dan daratan Syria-Yordan, khususnya di gurun Negev.
Alm. Yehuda Nevo, dari Universitas Yerusalem, melakukan riset
ekstensif dan menerbitkan hasilnya pada tahun 1994 dalam bukunya
`’Toward a Prehistory of Islam/Menuju Masa pra-sejarah Islam”, yang
saya jadikan bahan acuan disini.

Nevo menemukan dalam teks2 religius Arab, dari satu setengah abad
kekuasaan Arab (abad ke 7) adanya sebuah kepercayaan monotheis yang
“jelas2 bukan Islam, namun sebuah kepercayaan dari mana Islam bisa
berkembang” (“demonstrably not Islam, but a creed from which Islam
could have developed”. )

Ia juga menemukan bahwa dalam semua institusi religius selama masa
SUFYANI (th 661-684) tidak ada sedikitpun sebutan tentang Muhammad
atau petunjuk bahwa Muhamad adalah nabi Allah. Ini benar, sampai
sekitara tahun 691, dimana tujuan utama inskripsi adalah religius atau
hanya commemorative, seperti inskripsi pada bendungan didekat Ta’if,
yang didirikan oleh Kalif Muâwiya pada tahun 660-an. Absennya nama
Muhamad pada inskripsi2 kuno adalah penting.

Kemunculan pertama nama Muhamad rasul Allah ditemukan pada coin
Arab-Sassanian dari Xalib ben Abdallah dari tahun 690, yang dibuat di
Damaskus. Pernyataan kepercayaan, termasuk Tauhid (KeTunggalan Allah),
pernyataan bahwa Muhammad rasulAllah dan penolakan keTuhanan Jesus
(rasul Allah wa-abduhu) ditemukan dalam inskripsi Abd al-Malik dalam
the Dome of the Rock, tertanggal 691. SEBELUMYA, PERNYATAAN
KEPERCAYAAN MUSLIM TIDAK DAPAT DIPASTIKAN.

Setelah dinasti MAARWANID (sampai 750), nama Muhammad biasanya timbul
dalam pernyataan religius, seperti pada kepingan uang dan papyrus
`’protocols’ ‘. Namun, papirus bahasa Arab pertama di Mesir, dalam
bentuk bukti penerimaan pajak tahun 642, ditulis dalam bahasa Yunani
dan Arab dan menganut judul “‘BASMALA”, namun karakternya bukan
Kristen maupun Muslim.

Inskripsi2 dalam the Dome of the Rock, walaupun mengandung teks
religius, tidak pernah menyebut nama nabi atau kepercayaan Muslim, 30
tahun setelah kematian Muhamad, walaupun menganut suatu bentuk
monotheisme yang berkembang dari gaya literatur Yahudi-Kristen. Lebih2
lagi, ketika kepercayaan itu diperkenalkan pada masa MARWANID (setelah
684), tiba2, kepercayaan itu menjadi satu2nya deklarasi religius
negara. Namun lagi2 tidak begitu saja diterima rakyat.

Menurut Y. Nevo, rumusan Mohammedan ini hanya dimulai digunakan dalam
inskripsi umum pada jaman Kalif Hisham (724-743). NAMUN WALAUPUN
MEREKA PENGIKUT MUHAMAD, MEREKA BUKAN MUSLIM. Untuk itu, kata Nevo,
kita harus menunggu sampai permulaan abad ke 9 (sekitar 822),
bersamaan dengan ditemukannya Quran tertulis pertama. Jelaslah bahwa
bukan semasa hidupnya Muhamad diangkat kepada posisi nabi, BAHKAN
KETIKA ITU, KEPERCAYAAN KEPADA MUHAMAD TIDAK SAMA DENGAN APA YANG
DITEMUKAN SEKARANG.

QURAN

Sumber2 menunjukkan bahwa buku ini disusun secara tergesa2. Wansbrough
mengatakan bahwa `’nampak jelas bahwa buku ini tidak memiliki struktur
keseluruhan, sering tidak jelas, baik dari segi bahasa maupun isi,
menghubung2i materi yang terpisah2 dan cenderung mengulang-ulang
anak-kalimat dalam berbagai versi. Atas dasar ini dapat disimpulkan
bahwa buku ini adalah produksi editing tidak sempurna di masa kemudian
dari bermacam2 tradisi” seperti dikutip dalam buku Crone-Cook
`’Hagarism” .

Mengenai kapan Quran itu disusun kami hanya bisa menerka dari
penanggalan manuskrip2 yang ada. Dari sini, kami bisa menyimpulkan
bahwa Quran tidak eksis sebelum akhir abad ke 7. Referensi tertua dari
luar tradisi literatur Islam mengenai sebuah buku yang dinamakan
dengan `’Quran” timbul pada pertengahan abad 8 dari tulisan
pembicaraan antara seorang Arab dan seorang pendeta dari Bet Hale.
Namun ini belum tentu menunjuk pada buku yang kita kenal sekarang.
Baik Crone maupun Cook menyimpulkan bahwa selain referensi kecil ini,
tidak ada indikasi apapun bahwa Quran eksis sebelum akhir abad ke 7.

Dalam riset mereka, baik Crone dan Cook bersikeras bahwa kemungkinan
besar, Quran (atau dalam bentuk permulaan) disusun sebagai bukunya
Muhamad pada masa gubernur HAJJAJ BEN YUSUF (663-714), sekitar tahun
705. Dari kesaksian Leo by Levond, gubernur Hajjaj nampak telah
mengumpulkan semua tulisan2 lama kaum Hagar dan menggantikannya dengan
versi yang disusun `’menurut keinginannya, dan membagikannya kepada
siapaun di negerinya”. Ini juga sesuai dengan fakta bahwa baik
manuskrip Quran di Samarqand dan Topkapi (di Turki), Quran tertua yang
kita miliki, ditulis dalam bahasa Kufic, dialek Persia dari Kufa, dan
bukan bahasa Arab.

Kesimpulan masuk akal adalah bahwa dalam masa inilah Quran memulai
perkembangannya, kemungkinan ditulis, sampai akhirnya disahkan pada
pertengahan sampai akhir abad 8 sebagai Quran yang kita kenal sekarang.

Namun demikian, bukti2 arkeologis tentang keberadaan Quran adalah yang
paling problematik. Bekas2 bangunan dan inskripsi dari daerah itu dari
abad 7 dan 8 tidak hanya menunjukan kontradiksi bahwa Muhamad
mengesahkan Kiblat semasa hidupnya, atau bahwa ia yang menyusun Quran
yang kita kenal sekarang, bahkan asal usul ke-nabiannya juga
diragukan. Ini merupakan penemuan penting dan problematik.

Sekarang kita menemukan coin2 yang katanya mengandung tulisan Quran,
tertanggal 685, yang dibuat pada masa Abdul Malik. Lebih2 lagi, the
Dome of the Rock yang dibangunnya pada tahun 691 menunjukkan
ketidaksesuaian antara inskripsinya dengan pernyataan dalam Quran.

Dua ahli etymologi, Van Berchem and Grohmann, setelah riset ekstensif
terhadap inskripsi ini mengatakan bahwa mereka mengandung `’variant
verbal forms, extensive deviances, as well as omissions from the text
which we have today” (`’Arabic Papyri from Hirbet el-Mird” as cited
by Crone-Cook).

Jika inskripsi2 ini berasal dari Quran, dengan berbagai macam variasi.
bagaimana mungkin Quran disahkan (dikanonisasi) sebelum akhir abad ke
8 ? Orang hanya bisa menyimpulkan bahwa terjadi sebuah evolusi dalam
penyusunan Quran, KALAU MEMANG MEREKA ASALNYA DIKUTIP DARI QURAN.

KESIMPULAN SINGKAT :

1) kaum Yahudi dan Arab bersahabat sampai paling tidak tahun 640.

2) Yerusalem adalah tempat ibadah Islam sebenarnya sampai
permulaan abad ke 8.

3) Mekah tidak dikenal sebagai kota dagang sebelum akhir abad
ke 7 dan tidak juga dikenal sebagai rute perdagangan.

4) Kiblat baru ditetapkan kearah Mekah setelah abad ke 8.

5) Muhammad tidak dikenal sebagai rasul sebelum akhir abad ke 7.

6) Referensi paling pertama tentang adanya Quran tidak ada sebelum
pertengahan abad ke 8.

7) Tulisan Quran original tidak serupa dengan teks Quran sekarang.
Quran yang kita miliki sekarang BUKAN Quran yagn seharusnya
dikumpulkan dan dikanonisasi kalif Uthman pada tahun 650, seperti
diakui Muslimin.

9) Quran yang loe miliki sekarang (sejak tahun 790) tidak ditulis 16
tahun setelah wafatnya Muhamad, melainkan 160 tahun kemudian.

The whole article relies on the authority of John Wansbrough (from
SOAS, University of London ) `’Quaranic Studies : Sources and Methods
of Scriptural Interpretation’ ‘ (1977) and his `’The Sectarian Milieu :
Content and Composition of the Islamic Salvation History” (1978).
Also on the authority of Patricia Crone and Michael Cook (from Oxford
University ) `’Hagarism : The Making of the Islamic World”. Then of
Patricia Crone’s ”Slaves on Horses : The Evolution of the Islamic
Polity” (1980) and `’Mecca Trade and the Rise of Islam” (1987).

Comments
4 Responses to “Akupun tak tau ini harus diimani atau tidak……”
  1. ndaz mengatakan:

    wooo,,, ra pokro,, malah ditulis nang bloge meneh kie peye,,,?

    eh ku dah punya bantahane,,, bentuke PDF,, tapi aku lali ndelehkene ngendi,,,mbuh nang ngomah po nang neo,,, hehehehehehe,,, sik goleki sik ah,,,

    numpang masang link,, hehehe,,,

    wahidsalman.blogspot.com

    :Peace:

  2. suntea mengatakan:

    hehehehehe……….rapopo tho……
    sing penting lakurip…..

  3. Meme mengatakan:

    hua~~~ panjang amat mbak, males bacanya😀
    numpang pamer avatar bae ya?

  4. yusuf mengatakan:

    BADAH HAJI (Pilgrimage) DAN ARAH SHALAT DALAM INJIL

    Ibadah haji bukan ritual bangsa pagan, Secara syariat, mula haji dilakukan oleh Nabi Ibrahim as. pada sekitar 2000 tahun SM.

    Ketika itu, Ibrahim dan Ismail as.putranya, diperintahkan membangun Ka’bah.
    Ritual ini terjadi pada bulan ke dua belas terdiri dari pejalanan ke Mekkah, melakakukan beberapa ritual yang berpuncak pada ritual korban dan mencukur rambut.

    Hakikat haji adalah perjalanan ruhani seorang hamba menuju Allah.

    Dalam terjemahan kamus adalah: perjalanan jauh seseorang ke sebuah tempat istimewa dimana untuk menunjukkan rasa hormat (kepada Sang Pencipta).

    Pilgrimage ; a journey to a place which is considered special, and which you visit to show your respect. (Cambridge dictionary)

    Ia bermakna keharusan bagi setiap manusia yang ingin kembali kepada Tuhan dalam keadaan suci hingga berakhir dengan perjumpaan dengan Tuhan. MENGAPA harus berhaji?

    Nabi Muhammad SAW bersabda: “Islam didirikan atas lima hal; Penyaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad sebagai utusan Allah, melaksanakan shalat, membayar zakat, haji ke Baitullah dan puasa Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu
    Umar).

    Surat dalam Alquran: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah” (QS Ali ‘Imran: 97).

    Salah satu makna terbesar yang terkandung dalam pelaksanaan ibadah haji adalah tentang persatuan dan kesatuan umat.

    Ajaran ini tercermin sejak orang yang melaksanakan ibadah haji memasuki miqat. Di sini mereka harus berganti pakaian karena pakaian melambangkan pola, status dan perbedaan-perbedaan tertentu.

    Pakaian menciptakan “batas” palsu yang tidak jarang menyebabkan “perpecahan” di antara manusia. Selanjutnya dari perpecahan itu timbul konsep “aku”, bukan “kami atau kita”, sehingga yang menonjol adalah kelompokku, kedudukanku, golonganku, sukuku, bangsaku dan sebagainya yang mengakibatkan munculnya sikap individualisme.

    Mulai dari miqat mereka mengenakan pakaian yang sama yaitu kain kafan pembungkus mayat yang terdiri dari dua helai kain putih yang sederhana.

    Semua memakai pakaian seperti ini. Tidak ada bedanya antara yang kaya dan yang miskin, yang terhormat dan orang kebanyakan, yang berasal dari Barat dan yang berasal dari Timur, mereka memakai pakaian yang sama, berangkat dan akan bertemu pada waktu dan tempat yang sama. Dengan aktivitas yang sama dan menggunakan kalimat yang sama.

    “Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, akau penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kekuatan hanyalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.”

    Manusia yang tadinya terpecah-pecah dalam berbagai ras, bangsa, kelompok, suku dan keluarga dengan ibadah haji dihimpun oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan berbagai faktor kesamaan agar mereka menjadi satu. Memuji kebesaran Allah dengan konsentrasi yang sama, dimana di tempat asalnya mereka disibukkan dengan masalah masing2, di sana kita seolah me re-charge hati, keyakinan dan kepasrahan terhadap Allah.

    Pada masa Nabi Daud, tempat ziarah / kiblat shalat dipindahkan seperti kita ketahui dalam 1 TAWARIKH 15, dengan membawa tabut ke Yerusalem.

    Dalam khotbah di bukit Yesus AS meramalkan akan berpindahnya tempat ziarah dan arah shalat dari yerusalem ke sebuah tempait lain :

    “Kata Yesus AS kepadanya: “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. “Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.” (Yohanes 4:21-23)

    Tempat ziarah menjadi subyek kontoversi di masa Yesus AS. Kaum yahudi meng-klaim tempat itu adalah yerusalem sedangkan kaum samaritan meng-klaim gunung yakub sebagai tempat ziarah.

    Pertama, Yesus menyebutkan bahwa akan datang suatu masa tempat ziarah bukan lagi Yerusalem atau gunung kaum Samaritan. Kedua, beliau menyebutkan bahwa ziarah akan dilakukan di suatu tempat yang akan dituju oleh orang yang benar-benar akan menyembah Tuhan.

    Begitu juga dalam perjanjian lama:

    “Tetapi tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, dari segala sukumu sebagai kediaman-Nya untuk menegakkan nama-Nya di sana, tempat itulah harus kamu cari dan ke sanalah harus kamu pergi.” (Ulangan 12:5)

    “maka ke tempat yang dipilih TUHAN, Allahmu, untuk membuat nama-Nya diam di sana, haruslah kamu bawa semuanya yang kuperintahkan kepadamu, yakni korban bakaran dan korban sembelihanmu, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu dan segala korban nazarmu yang terpilih, yang kamu nazarkan kepada TUHAN.” (Ulangan 12:11)

    “Tetapi di tempat yang akan dipilih TUHAN di daerah salah satu sukumu, di sanalah harus kaupersembahkan korban bakaranmu, dan di sanalah harus kaulakukan segala yang kuperintahkan kepadamu.” (Ulangan 12:14)

    “Apabila tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, untuk menegakkan nama-Nya di sana, terlalu jauh dari tempatmu, maka engkau boleh menyembelih dari lembu sapimu dan kambing dombamu yang diberikan TUHAN kepadamu, seperti yang kuperintahkan kepadamu, dan memakan dagingnya di tempatmu sesuka hatimu.” (Ulangan 12:21)

    Ayat di atas, mirip dengan praktik ritual haji dan penyembelihan hewan kurban dalam idul adha atau lebaran haji dalam ajaran Islam, dimana para jemaah haji di mekkah akan menyembelih kurban di sana setelah selesai ritual haji, maka bagi yang tidak pergi ziarah, dapat menyembelih hewan kurban dimana saja mereka berada.

    Dalam Injil dapat juga kita temui petunjuk yang menyebutkan cara ritual haji seperti yang dilakukan umat muslim di mekkah, yaitu berwudhu atau bersuci lalu berjalan mengelilingi Ka’bah/rumah (mezbah) Allah:

    “Aku membasuh tanganku tanda tak bersalah, lalu berjalan mengelilingi mezbah-Mu, ya TUHAN (Mazmur 26:6)

    Rumah Tuhan yang pertama dicatat dalam Alquran sebagai di Bakkah, nama kuno bagi Mekkah:

    “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia” (QS 3-96)

    Hal ini telah diketahui dalam Mazmur 84:5-7:

    “Berbahagialah segala orang yang boleh duduk dalam rumah-Mu serta memuji akan Dikau senantiasa.” (Mazmur 84:5)

    “Berbahagialah orang yang kuatnya adalah dalam Engkau, dan hatinya adalah pada jalan raya (ziarah/pilgrimage) ke kaabah-Mu”. (Mazmur 84:6)

    “Apabila mereka itu melalui lembah Baka mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air, bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat.” (Mazmur 84:4-7)

    (catatan: terjamahan di atas diterjemahkan dari Injil versi ‘New International Version’ karena berbeda dalam terjemahan bahasa Indonesia)

    Ringkasnya ziarah dalam Islam pada dasarnya sama dengan ziarah dalam al-kitab. Keduanya merefleksikan waktu, tujuan, praktik dan tempat tempat ziarah yang sama.

    Selidikilah kebenaran dengan bijak, jangan sampai ternyata kamu telah menghina Nabi Allah, naudzubillah min zalik.

    Kenapa ada nabi Musa AS dengan Taurat, lalu ada Nabi Isa (Yesus) AS dengan Injil kemudian ada Nabi Muhammad SAW dengan Al-Quran ? :

    Matius 5:17 : “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.

    Al-Quran surat Ali Imran:3 : “Dia menurunkan Al-Kitab (Al-Qur`an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil.”

    Wallahualam bishawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: