Ketika Sekar Kemuning menjadi Jambon (Part 1)


Sekar Kemuning…Seorang pemudi yang begitu lugu dan polos, yang begitu kasmaran dan mengagumi Perjaka, Perjaka adalah sosok pemuda yang mempunyai kemampuan olah tanding yang cukup mumpuni. sebagai seorang prajurit, Perjaka memang mempunyai tubuh yang tegap, kekar dan juga tampan, meski seorang prajurit Perjaka juga mempunyai akal dan kecerdasannya tak dapat diremehkan.

Sekar Kemuning memang bukan seorang gadis yang menonjol di dusunnya, Sekar Kemuning juga tak secantik putri Sekar Kedaton, Sekar Kemuning hanya gadis biasa dengan kemampuan biasa. Lain halnya dibanding dengan Perjaka, Perjaka adalah seorang pemuda gagah tampan dan layak untuk di kagumi para wanita. Dalam suatu kampung mereka besar bersama, mereka juga saling kenal, tapi mereka tidak saling dekat sebelumnya.

Sebelum kisahnya dimulai, mereka hanya sebatas tetangga yang tidak begitu akrab, bertemu-pun hanya bertegur sapa dan tidak membahas lebih akan suatu hal, dan mereka hanya berbicara ketika ada sesuatu hal yang penting saja. Sekar Kemuning sebenarnya telah cukup lama memendam rasa kepada Perjaka. Namun Sekar Kemuning begitu takut, mungkin sebagian ketakutan itu adalah rasa malu untuk menyatakan perasaan gadis itu kepada Perjaka. Bukan suatu etika yang bagus ketika seorang perempuan harus mengutarakan cinta kepada seorang lelaki (-bahasa kerennya nembak-). Pada saat itu seorang Sekar Kemuning hanya mampu merajut asa dalam mimpi tanpa ada kenyataan, dan ketika ia terbangun dari mimpi ia harus menerima bahwa asa itu lenyap terberangus akan kenyataan, Begitu setiap pagi ia lalui dengan rasa sakit hati, yang terus menggerogotinya.

Pada suatu pagi, semua warga dalam dusun itu malas untuk menyambut hari, hari yang di penuhi dengan kekeringan dan kemiskinan, penderitaan dimana-mana. Bagai Mati segan hiduppun tak mampu. Dan pada saat itu, Kemuning ngangsu beserta teman-temannya, namun ia berjalan tidak seiringan. Di tengah lamunannya ia terantuk batu dan mengakibatkan menjatuhkan klenting >>alat buat ngangsu yang terbuat dari kuningan<<. Saat itulah kisah Kemuning dan Perjaka di mulai, saat itulah kedekatan mereka dimulai, saat tatapan mereka saling bertemu itulah muncul benih-benih yang lama terpendam.

Sejak saat itu, pada setiap kesempatan di sela-sela kesibukannya Perjaka mencari-cari alasan untuk selalu bertemu dengan Kemuning. Di saat itulah mereka berdua banyak bertukar pengalaman, bertukar cerita, dan saling pandang untuk melepas rindu. Tidak pernah ada kata cinta dan sayang yang terucap dari kedua belah pihak, meski demikian Kemuning sudah cukup mempunyai alasan untuk merasa bahagia, lelaki yang selama ini ida idam-idamkan telah dekat dengannya. Itu lebih dari cukup untuk kemuning. Tak terasa kedekatan mereka membuat Kemuning larut, larut dan akhirnya hanyut dalam buaian sang dewi amor. Setiap detik yang ia lalui ia penuhi dengan wajah sang lelaki idaman. Tak jarang ia menerawang jauh ke langit, merajut mimpi-mimpi dalam anganan. Tak jarang ia sering menyeringai tanpa diketahui sebabnya. Hampir gila dia di sebut, ya ia gila, namun gila karena sedang kasmaran.Tak pernah ia perdulikan sekitar ketika ia sedang merajut mimpi.

Kemarau terlampaui, penghujan hampir meninggalkan masanya, Kemuning masih menjadi gadis yang selalu sibuk merajut mimpi dalam angannya, belum pula ia tersadar. Hingga suatu ketika ia pergi ke pasar, seperti biasanya, ia bertugas menjual hasil ternak keluarganya untuk ditukar dengan kebutuhan lainnya. Dan di situlah sebenarnya ia sering mendapatkan informasi tentang banyak hal, baik dari keadaan pemerintah sekarang, sampai informasi tentang lelaki idamannya pun tak jarang ia dapatkan dari situ. Terhenyaklah ia ketika ia mendengar dari seorang mulut, bahwa dulu kala Perjaka pernah bilang kepada orang tersebut bahwa ia sebenarnya menginginkan dan pastilah istrinya kelak bukan orang biasa, bukan orang sembarangan, ia ingin istri yang cantik jelita yang lembut kepribadiannya, yang terlahir dari orang kaya karena kelak ketika ia memangku jabatan yang ia idam-idamkan pikirnya tak pantas ia menikahi gadis lumrah dan tidak berat timbangan bibit bebet bobotnya. Seketika Kemuning bagai tersambar petir dan tak mampu bernafas sejenak, bagai di gerataki isi kepalanya, ingin ia pekikkan suaranya lantang, ingin ia luberkan air yang berada dalam bendungan matanya, ingin ia berlari sekencang mungkin tanpa memperhatikan kemana ia akan pergi, namun semua keinginan itu seperti sirna, bibirnya seketika kelu untuk meneriakkan satu kata sekalipun, air dalam bendungannya serasa kering kerontang melebihi sungai di musim kemarau, seketika kakinya terasa berat untuk di langkahkan, bagai pohon yang tersambar petir, menjadi seonggok kayu yang diam tak mampu menghidar dan hanya mampu diam menerima sambaran petir dan pada akhirnya hanya mampu diam. Remuk tak berupa hati sang gadis yang mendengar perihal sebenarnya keinginan sang pujaan hati, sirnalah sudah angan yang selama ini ia rajut, semua harapan itu telah habis terberangus oleh kenyataan dan kini semua doa menjelma menjadi harapan harapan kosong yang tak mampu ia hindari. Sesak dada kemuning ketika menyadari ia telah begitu cinta dengan Perjaka dan di saat itulah ia harus menerima kelak ia akan kehilangan pujaannya, ia harus mampu tetap tegar dan tersenyum melihat pujaan hatinya bersanding dengan yang lain, bukan dirinya, bahwa ia harus tersadar dalam mimpi dan menghadapi kenyataan bahwa semua mimpi tak pernah bisa menjadi kenyataan. Kini dalam setiap waktunya ia persiapkan diri untuk segera mengubur dalam-dalam hari-harinya yang di penuhi dengan gurauan dan senyum manis sang pujaan hati, dan kini ia harus menyiapkan diri bahwa semua kenangan itu tak tak pernah ia miliki untuk selamanya. Kini hari hari sang gadis hanya termangu diam dan tak lagi nampak mata yang bersinar ketika berbicara, tak lagi nampak air muka jernih nan ceria di setiap sikapnya, tak lagi ada semangat yang berkobar ketika ia melangkahkan kaki meninggalkan peraduan untuk menyambut hari baurunya.

Di sisi lain, sang Perjaka masih belum berbeda, masih dengan candaannya, masih dengan keceriaannya, masih seperti yang sebelumnya. Dan saat ini ia sedang bahagia, lagi lagi karena ia ingin segera bertemu dengan Kemuning, ia sudah merencanakan banyak cerita untuk di bagi dengan Kemuning. Sang Perjaka tak pernah mengetahui keadaan Kemuning yang ia pikirkan ia senang dan nyaman saat berada di samping Kemuning saat ini, dan ia merasa ingin terus bersama Kemuning saat ini, ntah nanti itu urusan belakangan. Sesampainya di pedusunan di mana tempat ia selalu mendambakan kesenangan akan datang merasuki dan merayap masuk ke dalam hatinya hingga ke setiap sudut yang paling dalam. Tempat pertama yang ia tuju adalah tentu saja kebahagiaannya. Sampai di tempat yang ia maksud, ia temukan wajah itu, wajah dengan segala keserhanaannya, dengan senyum tulusnya, dengan suara yang tak asing baginya yang mampu membuatnya selalu ingin mengenang saat jauh, melihat dan mendekap saat dekat, dan membagi segala hal dengannya. Segera senyum merekah pada wajah Perjaka, menampakkan keceriaan yang membuat ia nampak lebih menarik untuk dilihat. Saat itu Kemuning hanya mampu diam, diam dan berusaha sekeras tenaga untuk menghapus air muka kepedihannya, pedih melihat kenyataan bahwa kesenangan yang ia dapatkan saat itu tak kan berumur panjang, kenyataan bahwa kelak ia pasti kehilangan sang pujaan hati. Panjang lebar perjaka berbicara Kemuning hanya membalas dengan senyum, seperti biasa Kemuning adalah gadis yang cukup pendiam, tak heran jika sang Perjaka tak merasakan kepedihan Kemuning yang mengakar kuat di dalam hatinya.

to be continued…

Comments
4 Responses to “Ketika Sekar Kemuning menjadi Jambon (Part 1)”
  1. pras mengatakan:

    ceritanya bikin penasaran kelanjutannya…………………. tak tunggu wesssssssss

  2. emirikana mengatakan:

    aye… aye…
    uneg2 pribadi nieh?
    but it’s okay…
    nothing is bad about it…
    just keep it up pal…

    uhmm…
    the use of language isnt bad, but it’s quite complicated.
    u can improve it n develope it as well.
    very nice try pal…

    SPIRIT!!!

  3. suntea mengatakan:

    @ emirikana :
    hmmm…yang bener terinspirasi dari uneg2 pribadi….hwe hwe hwe…

    @ pras :
    hwe hwe hwe…sabar pak….ru editing nie…banyak ide yang masuk tapi masi bingung meh natane…..tunggu tanggal mainnye…kabar segera datang…

  4. ndaz mengatakan:

    pengen jadi perjaka… :malu:

    tapi apa daya, nasi sudah menjadi bubur,,,

    saya tidak perjaka lagi….. :ngacir:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: