Ketika Sekar Kemuning menjadi Jambon (Part2)


Mangsa Ketiga taun ini memang tak separah taun kemarin, karena ‘ketiga’ taun ini bukanlah kemarau yang teramat panjang, hanya beberapa bulan saja tak lama hujan pun mengguyur, mengguyur membasuh kekeringan, menghapus debu yang tertinggal di atas batu, membasahi hamparan padang nan luas, menandakan kemakmuran akan segera datang menyambut hari-hari warga. Setiap hari, bakalnya para warga bersemangat melangkahkan kaki menyambut pagi, seorang perempuan yang tengah hamil tua yang masih tidur dalam pelukan suaminya, pagi-pagi segera bangun dan menyiapkan segala keperluan untuk sarapan pagi itu, ayam berkokok nyaring meneriakkan kepada semua makhluk di pedesaan itu bahwa hari sudah pagi.

Kemuning juga melakukan kegiatannya tak berbeda seperti hari-hari sebelumnya, Kemuning mempersiapkan sarapan dan mempersiapkan apa apa yang akan ia bawa ke pasar untuk ia jual nantinya. Matahari sudah sepenggalah dan tidak ada yang berbeda di hari itu, semua berjalan semestinya dan seperti hari hari sebelumnya. Namun hal tersebut tidak terjadi di dalam dinding istana, semua prajurit berlatih dan giat berlatih, bahkan para prajurit dari semua komando di kerahkan untuk melakukan latihan, pasukan segelar sepapan (-terinspirasi dari kata2 Langit Krisna Haryadi.ed-) pun di persiapkan. Hal ini tentu mempunyai alasan yang kuat, dan pastilah hal besar akan terjadi dalam waktu dekat. Para sesepuh di luar dinding istana yang mampu melihat dengan mata batin juga menampakan raut kegelisahan. Berbeda dengan Kemuning dan warga-warga yang lain, mereka yang tak mampu mengendus kejanggalan itu masih bisa terkakak bersendau gurau. Tanpa mereka ketahui, bahwa sebenarnya akan terjadi makar besar-besaran. Pemberontakan dalam tubuh sendiri adalah hal yang menyakitkan bagi kerajaan manapun juga bagi siapapun. Tapi berbeda bagi seorang prajurit pilih tanding yang memang sudah rindu dengan peperangan, selain menguji kemampuan mereka, inilah kesempatan mereka untuk naik pangkat, begitulah sebagian prajurit menghadapi suasana perang, tanpa ada rasa takut mereka bersemangat berlatih gelar apa yang akan di pakai untuk menghabisi musuh.

Pada suatu hari sang Perjaka mendapat tugas untuk berkeliling, sampailah di depan rumah Kemuning, ia ijin sebentar untuk menemui sang gadis yang selama ini memenuhi ruang hati dan mimpinya. Dan sampailah pada tatapan gadis yang sayu itu, pada pertemuan yang tak pernah terencanakan itu, mereka berdua sempat melepas rindu dengan tatapan mesra. Perjaka memulai pembicaraan,
“Dinda Sekar, mau kah dirimu melakukan sesuatu untukku?”. Tanya prajurit itu. Sejenak sunyi memenuhi ruang itu, merambati waktu yang terus berlalu.
“Kakang Perjaka memintaku untuk melakukan apa?” Saut gadis itu dengan wajah yang disembunyikan.
“Akan terjadi hal yang besar, dan jika peruntungan nasib lagi berpihak padaku, aku akan segera menemuimu dengan membawa kabar gembira beberapa waktu mendatang. Maukah kau sabar dan setia menungguku untuk memberi kabar itu kepadamu?”. Berbinar dengan semangat wajah Perjaka.
Keheningan kembali merayapi dua insan yang bertemu itu, hanya sayup sayup kidung terdengar diiringi nyanyian dewi malam.
“Kakang, sebenarnyalah tanpa kakang minta aku akan setia menunggu, tapi ada apa gerangan kakang berkata seperti itu?”. Tanya Kemuning dengan wajah sedikit diangkat dan menampakkan wajah yang penuh harapan supaya ada yang mengobati rasa penasarannya saat itu.
“Ku harap kau tak kaget mendengar berita ini, kerajaan akan segera berperang, ada orang yang makar, dan jangan kau ceritakan kepada siapapun akan hal ini”.
“Kakang ikut tugas perang ini?”. Tanya gadis itu yang dipenuhi kecemasan.
“Tentu, ini tugas bela negara, aku adalah seorang prajurit, kenapa, apa kau mencemaskan aku?”.
“Lantas kenapa aku harus menunggu kakang sampai seusai perang?”. Selah gadis itu menghindari untuk menjawab pertanyaan Perjaka.
“Setialah menunggu dan berdoa untukku, karena setelah perang aku tentu membawa kabar gembira, aku benar-benar tak sabar akan datangnya hari itu”. Jawab Perjaka dengan semangatnya.
Dan pembicaraan itu terhenti karena dirasa Perjaka masih dalam tugas, tak pantas ia lama-lama meninggalkan tugasnya. Segera setelah itu terdengar derap kuda melesat menembus kesunyian dan gelapnya malam.

Berbeda dengan Perjaka, jika hari-hari Perjaka selalu ia lalui dengan penuh semangat dan keoptimisan pada masa depan yang cerah yang akan membawanya ke dalam sendang kebahagiaan. Hal itu tidak terjadi pada Kemuning, setelah pembicaraan malam itu, Kemuning dipenuhi rasa cemas, bahagia tapi juga sakit hati. Kemuning selalu berdoa demi keselamatan sang pujaan hati, agar sampailah berita bahagia itu pada telinga Kemuning. Namun sejenak ia teringat kembali beberapa saat yang lalu, berita yang tak begitu mengenakkan yang tak sengaja ia dengar, sontak ia lemas, ia pun bergumam.
“/Apakah memang berita bahagia itu memang untukku, jangan-jangan berita itu adalah berita bahagia hanya untuk dirinya. Bagaimana jika berita bahagia itu adalah kenaikan pangkatnya kemudian dia akan meminang gadis idamannya, dan itu bukanlah aku. Apa yang harus aku lakukan./”
“Duh Gusti paringono sabar lan ikhlas.” Lirih terdengar dari mulutnya.

Dan pada suatu pagi yang masih buta, terdengar tabuh genderang perang dibunyikan, sontak warga terhenyak dari tidur lelapnya, tak banyak yang berani keluar rumah, mereka takut, karena mereka tau itulah bunyi genderang yang mencekam, yang hanya dibunyikan saat perang.
“Kakang, kakang dengar itu?”. Tanya istri yang sedang terbangun kepada suaminya.
“Ada apa nyai?”
“Itu suara apa? Apa kau masih bisa mendengar suara itu? Aku takut kakang.”
“Astaga, ada perang nyai, tapi kenapa ada perang, siapa yang sedang berperang?”
Keduanya saling tatap dan tak berani untuk memastikan, begitulah kondisi para warga saat itu, suasana di luar dinding istana menjadi senyap dan begitu mencekam. Tak berbeda dengan Kemuning, bergetar hati Kemuning mendengar tabuh genderang perang itu. Kecemasan menggelayutinya, Tak henti hentinya ia berdoa pada Sang Hyang Widi untuk keselamatan dan kebaikan kepada setiap orang yang membela negaranya, terkhusus sang pujaan hatinya.

Berhari-hari telah berlalu, namun suasana masih mencekam, banyak pembunuhan, penjarahan, pemerkosaan, semua terjadi di mana mana. Menghadapi keadaan seperti itu tak mungkin penduduk bisa tenang, mereka berinisatif untuk mengungsi ke daerah yang lebih aman. Kemuning dan keluarganya beserta penduduk yang mengungsi membawa barang-barang yang penting dan berduyun duyun menuju daerah yang lebih aman.

Hari-hari berlalu, bulan bulan telah bergulir, sampai tatanan kembali pulih, barulah penduduk itu kembali ke rumah masing-masing. Mereka memulai segalanya dari awal. Begitu juga dengan Kemuning, hanya saja Kemuning juga membawa segala hal yang selama ini menghantui mimpinya. Sampai tatanan kembali normal sekalipun tak ada kabar yang sampai pada dirinya. Hatinya mulai gundah dengan beberapa pertanyaan yang ia timbulkan sendiri. Apakah Perjaka selamat dari peperangan itu? Apakah Perjaka benar-benar membawa berita bahagia untukku? Ataukah ia hanya mengiming-imingkan kebahagiaan yang tak pernah ia rencanakan untuk ia berikan untukku? Tapi kenapa?. Semakin lama ia bertanya, sesekali ia menemukan jawaban, tapi selebihnya jawaban itulah yang menimbulkan jutaan pertanyaan yang membuat dadanya sesak.

To be Continued…

Comments
2 Responses to “Ketika Sekar Kemuning menjadi Jambon (Part2)”
  1. pras mengatakan:

    emang latar nya dmn?
    kampung ndeso, apa padang rumput, apa padang pasir!!!!

  2. ndaz mengatakan:

    perjaka masih selamat ox,, sekarang lagi nglanjutin kuliah
    di D3 TI uns….,,,
    😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: